Inovasi Pembelajaran Prodi Akuntansi FEB Universitas Narotama: Mahasiswa Belajar Bisnis dari Ruang Kelas hingga Praktik Nyata
14 Juli 2026, 20:56:28 Dilihat: 40x
Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Narotama terus menghadirkan inovasi dalam proses pembelajaran agar mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki pengalaman nyata yang relevan dengan dunia kerja dan kewirausahaan. Salah satunya diwujudkan melalui mata kuliah Studi Kelayakan dan Perencanaan Bisnis yang diampu oleh Nila Sari, S.E., M.A dosen Program Studi Akuntansi FEB Universitas Narotama.
Melalui mata kuliah berbobot 2 SKS tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep penyusunan studi kelayakan bisnis (feasibility study), tetapi juga mengimplementasikannya secara langsung melalui metode pembelajaran berbasis simulasi praktik bisnis nyata. Pendekatan ini menjadi bagian dari inovasi pembelajaran studi kelayakan bisnis yang dirancang agar mahasiswa mampu memahami proses membangun sebuah usaha secara komprehensif.
Menurut Nila Sari, sebelum sebuah bisnis dijalankan, diperlukan perencanaan yang matang melalui penyusunan studi kelayakan. Mahasiswa diajarkan untuk mengkaji berbagai aspek penting, mulai dari aspek hukum, kesesuaian tata ruang, lingkungan, ekonomi, sosial, pemasaran, analisis teknis, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hingga aspek manajemen dan keuangan.
"Melalui studi kelayakan, mahasiswa belajar bahwa setiap keputusan bisnis harus didasarkan pada analisis yang matang sehingga investasi yang dilakukan dapat meminimalkan risiko kerugian, terutama pada usaha dengan nilai investasi yang besar," jelasnya.
Keunikan pembelajaran ini terletak pada implementasi praktik yang dilakukan selama satu semester. Setelah mendapatkan materi teori pada tujuh pertemuan pertama, mahasiswa dibagi menjadi tiga kelompok yang masing-masing berperan sebagai sebuah perusahaan dengan struktur organisasi lengkap, mulai dari Shareholder, CEO, manajer keuangan, manajer pemasaran hingga manajer produksi.
Sebagai bentuk simulasi dunia usaha,
Mahasiswa kemudian menyusun dokumen studi kelayakan, merancang konsep bisnis, membuat identitas usaha, mendesain logo dan kemasan produk, hingga menjalankan bisnis secara nyata melalui kegiatan open table yang dilaksanakan menjelang Ujian Akhir Semester (UAS).
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat membandingkan antara perencanaan yang telah dibuat dengan kondisi nyata di lapangan sehingga mampu mengidentifikasi kesenjangan (gap) yang terjadi dalam proses bisnis.
Pada akhir perkuliahan, setiap kelompok diwajibkan menyusun laporan kinerja perusahaan sebagai bentuk evaluasi terhadap hasil implementasi bisnis yang telah dijalankan.
Dalam proses penyusunan dokumen studi kelayakan, mahasiswa juga diperkenalkan pada pentingnya kolaborasi multidisiplin dalam penyusunan dokumen perencanaan bisnis.
Nila menjelaskan bahwa sebuah feasibility study tidak dapat disusun hanya dari satu bidang ilmu, tetapi memerlukan keterlibatan berbagai disiplin, seperti akuntansi, ekonomi, hukum, tekniklingkungan, dan lainnya.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar menyusun dokumen bisnis, tetapi juga membangun kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, dan pengambilan keputusan sebagaimana yang terjadi di dunia profesional.
Nila Sari mengungkapkan bahwa metode pembelajaran ini lahir dari keinginannya menciptakan suasana kelas yang lebih hidup dan interaktif. Menurutnya, mahasiswa akan lebih mudah memahami materi apabila terlibat langsung dalam proses praktik dibandingkan hanya mendengarkan penjelasan di kelas.
Strategi tersebut sekaligus menjadi bentuk strategi pengajaran untuk Gen Z melalui pendekatan kreatif untuk meningkatkan keterlibatan mahasiswa di kelas.
Mahasiswa didorong untuk aktif berdiskusi, berkolaborasi, memecahkan masalah, hingga merasakan langsung dinamika menjalankan sebuah usaha.
Respon mahasiswa pun sangat positif. Selain memperoleh pengalaman berwirausaha, beberapa kelompok bahkan berhasil memperoleh keuntungan dari bisnis yang mereka jalankan. Nila juga mendorong mahasiswa untuk berpikir lebih kreatif dalam mengembangkan strategi pemasaran, tidak hanya mengandalkan penjualan langsung (dine in dan take away), tetapi juga membuka layanan pre-order (PO).
Menurut Nila, tujuan utama pendidikan tinggi bukan sekadar menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah, tetapi juga individu yang mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama kuliah.
Karena itu, ia menekankan pentingnya fokus pada pemahaman materi yang aplikatif untuk masa depan, sehingga mahasiswa memiliki bekal nyata ketika memasuki dunia kerja maupun membangun usaha sendiri.
Ia juga berpesan agar mahasiswa memiliki sikap proaktif dan kreativitas melampaui sekadar perolehan ijazah. Baginya, keberhasilan pembelajaran diukur dari sejauh mana ilmu yang dipelajari dapat diterapkan dalam kehidupan nyata dan memberikan manfaat setelah lulus.
Melalui inovasi pembelajaran yang memadukan teori, praktik, kolaborasi, dan pengalaman bisnis secara langsung, ProdiAkuntansi FEB Universitas Narotama terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak lulusan yang adaptif, kompeten, dan siap menghadapi tantangan dunia usaha di era yang semakin dinamis.